Jika Abdullah Khusairi berandai-andai menjadi seorang rektor, wajar saja. Itu sepadan dengan apa yang telah beliau dapatkan, ilmu yang telah beliau peroleh baik dari pendidikan formal maupun non formal. Gagasan yang beliau buat sangat menarik, jika itu berhasil, sungguh kita tidak akan enggan menjawab IAIN sebagai tempat kuliah kita seandainya ada yang menanya.
Bagi saya, sebagai seorang mahasiswa di kampus yang kita cintai ini, mungkin belum tepat waktunya untuk mengkhayal menjadi seorang rektor. Ilmu yang saya peroleh belum cukup untuk memimpin perguruan tinggi terkemuka dan terbesar di Sumatera Barat ini. Apalah jadinya kampus kita nantinya, mengerjakan suatu hal yang tidak berkompeten dibidangnya. Amburadul, hancur, tidak becus mungkin itu umpatan yang akan saya terima.
Namun untuk saat ini saya hanya ingin duduk dan bercengkrama bersama rektor kita, mungkin di ruang kerjanya atau mungkin di “Blok M”. Tapi tak mungkin, saya mengkhayal terlalu tinggi untuk mengajak seorang rektor duduk dan bercengkrama di “Blok M”, nanti kepanasan atau kehujanan. Ruang kerjanya mungkin pilihan yang tepat. Duduk diatas sofa empuk memegang remote control AC sambil menyetel suhu kesejukan ruangan, nikmat sekali rasanya. Tidak seperti proses perkuliahan yang kepanasan saat matahari bersinar terik, apalagi sekarang banyak yang kuliah didalam tenda pasca gempa ini. Apabila ada mahasiswa yang berjualan kipas mungkin dagangannya akan laris.
Bercengkrama dengan rektor dihidangi secangkir kopi hangat mungkin merupakan suatu pengalaman yang langka, barangkali hanya dialami para pejabat atau tamu penting, yang tidak penting jangan berharap. Saya rasa karyawanpun tidak banyak yang mempunyai pengalaman seperti itu, atau mungkin tidak ada yang mengalaminya. Mahasiswa? Gak tahulah, pernah apa tidak.
Jika itu terjadi dengan saya, mungkin saya akan mengabadikan moment ini. Saya akan merekamnya dengan handycam, kamera digital, atau mungkin saya akan mengundang seorang wartawan. Diruangannya saya akan mengobrol tentang kampus kita. Tentang birokrasi, pembangunan, kebutuhan mahasiswa dan lain sebagainya yang saya bisa. Disini saya tidak untuk menuntut kinerja rektor, sebab saya rasa rektor kita sudah berusaha dengan kemampuannya untuk memajukan kampus kita. Pergi kesana-sini, antar kota dalam provinsi, antar kota antar provinsi bahkan keluar negeri. Tapi saya tidak tahu untuk apa. Mungkin saya saja yang ketinggalan informasi, yang jelas kita jangan berburuk sangka, mungkin saja rektor kita mempromosikan kampus kita atau mencari bea siswa untuk kita, saya saja yang tidak tahu.
Continue Reading...
Bagi saya, sebagai seorang mahasiswa di kampus yang kita cintai ini, mungkin belum tepat waktunya untuk mengkhayal menjadi seorang rektor. Ilmu yang saya peroleh belum cukup untuk memimpin perguruan tinggi terkemuka dan terbesar di Sumatera Barat ini. Apalah jadinya kampus kita nantinya, mengerjakan suatu hal yang tidak berkompeten dibidangnya. Amburadul, hancur, tidak becus mungkin itu umpatan yang akan saya terima.
Namun untuk saat ini saya hanya ingin duduk dan bercengkrama bersama rektor kita, mungkin di ruang kerjanya atau mungkin di “Blok M”. Tapi tak mungkin, saya mengkhayal terlalu tinggi untuk mengajak seorang rektor duduk dan bercengkrama di “Blok M”, nanti kepanasan atau kehujanan. Ruang kerjanya mungkin pilihan yang tepat. Duduk diatas sofa empuk memegang remote control AC sambil menyetel suhu kesejukan ruangan, nikmat sekali rasanya. Tidak seperti proses perkuliahan yang kepanasan saat matahari bersinar terik, apalagi sekarang banyak yang kuliah didalam tenda pasca gempa ini. Apabila ada mahasiswa yang berjualan kipas mungkin dagangannya akan laris.
Bercengkrama dengan rektor dihidangi secangkir kopi hangat mungkin merupakan suatu pengalaman yang langka, barangkali hanya dialami para pejabat atau tamu penting, yang tidak penting jangan berharap. Saya rasa karyawanpun tidak banyak yang mempunyai pengalaman seperti itu, atau mungkin tidak ada yang mengalaminya. Mahasiswa? Gak tahulah, pernah apa tidak.
Jika itu terjadi dengan saya, mungkin saya akan mengabadikan moment ini. Saya akan merekamnya dengan handycam, kamera digital, atau mungkin saya akan mengundang seorang wartawan. Diruangannya saya akan mengobrol tentang kampus kita. Tentang birokrasi, pembangunan, kebutuhan mahasiswa dan lain sebagainya yang saya bisa. Disini saya tidak untuk menuntut kinerja rektor, sebab saya rasa rektor kita sudah berusaha dengan kemampuannya untuk memajukan kampus kita. Pergi kesana-sini, antar kota dalam provinsi, antar kota antar provinsi bahkan keluar negeri. Tapi saya tidak tahu untuk apa. Mungkin saya saja yang ketinggalan informasi, yang jelas kita jangan berburuk sangka, mungkin saja rektor kita mempromosikan kampus kita atau mencari bea siswa untuk kita, saya saja yang tidak tahu.
Masih Belum Selesai

