Rabu, 27 Januari 2010

Jika Aku Bisa Ngopi dengan Rektor

Jika Abdullah Khusairi berandai-andai menjadi seorang rektor, wajar saja. Itu sepadan dengan apa yang telah beliau dapatkan, ilmu yang telah beliau peroleh baik dari pendidikan formal maupun non formal. Gagasan yang beliau buat sangat menarik, jika itu berhasil, sungguh kita tidak akan enggan menjawab IAIN sebagai tempat kuliah kita seandainya ada yang menanya.

Bagi saya, sebagai seorang mahasiswa di kampus yang kita cintai ini, mungkin belum tepat waktunya untuk mengkhayal menjadi seorang rektor. Ilmu yang saya peroleh belum cukup untuk memimpin perguruan tinggi terkemuka dan terbesar di Sumatera Barat ini. Apalah jadinya kampus kita nantinya, mengerjakan suatu hal yang tidak berkompeten dibidangnya. Amburadul, hancur, tidak becus mungkin itu umpatan yang akan saya terima.

Namun untuk saat ini saya hanya ingin duduk dan bercengkrama bersama rektor kita, mungkin di ruang kerjanya atau mungkin di “Blok M”. Tapi tak mungkin, saya mengkhayal terlalu tinggi untuk mengajak seorang rektor duduk dan bercengkrama di “Blok M”, nanti kepanasan atau kehujanan. Ruang kerjanya mungkin pilihan yang tepat. Duduk diatas sofa empuk memegang remote control AC sambil menyetel suhu kesejukan ruangan, nikmat sekali rasanya. Tidak seperti proses perkuliahan yang kepanasan saat matahari bersinar terik, apalagi sekarang banyak yang kuliah didalam tenda pasca gempa ini. Apabila ada mahasiswa yang berjualan kipas mungkin dagangannya akan laris.

Bercengkrama dengan rektor dihidangi secangkir kopi hangat mungkin merupakan suatu pengalaman yang langka, barangkali hanya dialami para pejabat atau tamu penting, yang tidak penting jangan berharap. Saya rasa karyawanpun tidak banyak yang mempunyai pengalaman seperti itu, atau mungkin tidak ada yang mengalaminya. Mahasiswa? Gak tahulah, pernah apa tidak.

Jika itu terjadi dengan saya, mungkin saya akan mengabadikan moment ini. Saya akan merekamnya dengan handycam, kamera digital, atau mungkin saya akan mengundang seorang wartawan. Diruangannya saya akan mengobrol tentang kampus kita. Tentang birokrasi, pembangunan, kebutuhan mahasiswa dan lain sebagainya yang saya bisa. Disini saya tidak untuk menuntut kinerja rektor, sebab saya rasa rektor kita sudah berusaha dengan kemampuannya untuk memajukan kampus kita. Pergi kesana-sini, antar kota dalam provinsi, antar kota antar provinsi bahkan keluar negeri. Tapi saya tidak tahu untuk apa. Mungkin saya saja yang ketinggalan informasi, yang jelas kita jangan berburuk sangka, mungkin saja rektor kita mempromosikan kampus kita atau mencari bea siswa untuk kita, saya saja yang tidak tahu.

Masih Belum Selesai
Continue Reading...

Senin, 22 September 2008

Potang Balimau

Ramadhan adalah suatu bulan yang paling mulia dibandingkan dengan bulan yang lainnya, sebab Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, bulan ibadah, segala amal ibadah yang kita lakukan pahalanya dilipat gandakan dari hari-hari atau bulan-bulan biasa. Agar kedatangan bulan ini lebih berkesan maka berbagai macam hal, acara atau ritual dilakukan untuk penyambutan bulan suci ini.

Namun ada sebagian banyak orang salah persepsi dalam mengaplikasikan penyambutan bulan Ramadhan ini yang sering kita dengar dengan istilah balimau atau potang balimau dalam istilah orang Payakumbuh. Dinegeri kita, yang berkembang itu adalah penyambutan tradisi atau budaya sedangkan penyambutan yang berdasarkan nilai-nilai ajaran islam sudar mulai memudar.

Mungkin sebagian kita ada yang tahu dan ada yang tidak tahu makna dan tujuan balimau, namun realita yang kita lihat adalah banyak orang yang salah mengartikan dan menyikapi balimau. Satu hari menjelang Ramadhan itu banyak dimanfaatkan oleh remaja untuk pergi berpasangan atau berkelompok dan menghabis waktu sampai menjelang maghrib atau malam bahkan ada yang pulang pagi. Ini bisa jadi menggambarkan bahwa mereka bersenang-senang dulu menjelang kedatangan Ramadhan, bukan untuk mensucikan diri malah mengotori diri.

Disini jelas bahwa nilai ajaran Islam dalam hal penyambutan bulan suci Ramadhan sudah melenceng jauh, lalu bagaimana dengan diri kita? Apakah kita sudah mensucikan diri untuk menyambut Ramadhan kemaren? Dan apa sumbangan pemikiran atau nasehat yang telah kita berikan kepada mereka yang sudah lari.
Continue Reading...

Jumat, 06 Juni 2008

Merdekakah Kita


Kita semua tahu, duniapun tahu kalau negara kita Indonesia sudah hampir 63 tahun merdeka, lepas dari penjajahan selama tiga setengah abad oleh Belanda yang kemudian disusul Jepang. Begitu besar perjuangan pahlawan negeri ini, hanya dengan “modal” bambu runcing bisa melumpuhkan lawan yang bersenjata mesin lengkap dengan tank dan lainnya. Sampai saat ini jasa beliau tetap dikenang dan diperingati, sehingga ada hari yang diliburkan bekerja dan sekolah untuk memperingatinya. Namun percuma rasanya jika hanya lengah dengan kesibukkan mengenang dan memperingati tampa meneruskan perjuangannya, malahan menghabiskan dana saja, berapa uang yang dikeluarkan untuk acara itu, lebih baik kita sumbangkan kepada yang membutuhkannya.

Meskipun status kita (Indonesia) sudah terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi jangan disangka kita sudah merdeka seutuhnya. Secara fisik memang tidak ada lagi perlakuan atau tindakan seperti masa penjajahan, ya…… boleh dikatakan secara fisik kita sudah merdeka. Namun, tampa kita sadari kita masih dalam jajahan bangsa lain. Penjajahan yang tak menumpahkan darah, tak memerlukan tentara dan tak memerlukan senjata, mereka menjajah pikiran dan budaya kita orang Indonesia, mereka juga menjajah mental kita.

Kenapa dulu banyak ilmuwan dan sastrawan yang dilahirkan negeri ini, kita tidak perlu menyebutkan namanya satu persatu, yang jelas mereka mampu berjalan diatas bara, dibawa tekanan Belanda mereka mampu berkarya. Mungkin kita berfikir salah satu motivasi mereka ialah ingin bebas dari tekanan supaya kita tidak dianggap remeh bangsa lain, mungkin itu benar. Tapi kita heran, mengapa setalah kita merdeka tidak ada lagi yang seperti mereka, minim sekali penerus. Kita terlalu gembira dengan kemerdekaan, terlalu senang dengan “kebebasan” sehingga lupa apa arti sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan kita adalah sebuah kemerdekaan simbolis.

Sebagai orang timur, kita (Indonesia) mempunyai nilai lebih dibandingkan barat dalam tata krama dan kesopanan, tapi itu sudah pudar dalam kehidupan kita. Sebagai contoh sederhana dalam segi berpakaian banyak generasi bangsa ini lebih suka mempertontonkan keindahan tubuh mereka, bahkan merasa bangga dengan apa yang dipakainya. Yang lebih parah lagi para orang tua membiarkan anak gadisnya berpakaian yang telanjang. Ini merupakan satu tanda kecil bahwa moral negeri ini sudah pudar dirasuki oleh budaya-budaya asing.

kita semua pasti bertanya apa penyebab semua ini, jika ada orang Indonesia yang tidak memikirkan sebab dari lunturnya moral bangsa ini, berarti rasa nasionalisme, rasa memiliki, rasa kepeduliannya terhadap bangsa ini sudah hilang. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah pengaruh televisi yang menayangkan adegan-adegan yang tidak mempunyai nilai pendidikan. Kita kenal Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) tapi apa yang ditayangkannya sangat jauh dari konsep pendidikan.

Pemikiran dan kebudayaan kita telah dirasuki oleh barat, kecintaan terhadap bangsa sendiri sudah hilang. Kita lebih senang mengadopsi dan suka dengan budaya-budaya barat. Jati diri kita sebagai orang Indonesia sudah hilang. Kasihan para pejuang bangsa ini yang susah payah membangun negeri ini, namun kita meruntuhkannya kembali. Kepada orang tua kami, bimbinglah generasi bangsa ini yang sudah patut kita tangisi. Untuk generasi bangsa ini, jangan pernah layu, jangan pernah putus asa, terus maju untuk membangun negeri ini, kita belum merdeka, kita masih terjajah.
Continue Reading...

Sebuah Catatan Kecil

Waktu itu saya ditunjuk sebagai salah satu utusan dari LPM Suara Kampus IAIN 'IB Padang untuk mengikuti Journalist Events yang diselenggarakan oleh LPPM Sektor FE Universitas Airlangga Surabaya. Saya berangakat dengan seorang teman Andri El Faruqi. Sebelum keSurabaya kami mampir diJakarta, ditempat saudara teman saya tadi, namanya acap disapa Ave ditempat kerjanya. Dia (Ave) bekerja disalahsatu perusahaan air minum mineral, dia juga alumnus Akademi Kimia Analis (AKA) Bogor. Kebetulan pada waktu itu hari Minggu lalu kami diajak keBogor karena hari Minggu dia tidak bekerja.

Kehidupan disana memang berbeda dengan diPadang. Tapi ada suatu perbedaan yang saya tidak tahu bagaimana menilainya. Malam sekitar jam 09.00 kami diajak kekampus AKA Bogor. Saya tanya mau ngapain, lalu dia jawab mau main bola. Saya membayangkan main bola dilapangan hijau dengan penerangan lampu yang banyak, wah.... mantap sekali fasilitas dikampus ini. Namun setelah sampai ditujuan ternyata dugaan saya salah, mereka main bola disuatu ruangan lepas, saya tidak tahu apakah itu GOR, GSG atau segala macam. Saya sedikit kaget, mereka begitu mudah untuk menggunakan ruangan tersebut hanya sekedar untuk main bola, pada main bola bisa dilakukan sore hari, apalagi sebagian dari mereka yang main bukan mahasiswa.

Pembaca mungkin bertanya mengapa saya kaget. Karena saya tidak menemui hal yang demikian dikampus saya yang katanya Islami. Coba pembaca berjalan pada malam hari dikampus pembaca akan menemui sekelompok orang yang berpakaian merah berbaris dilapangan gelap dengan sedikit penerangan melakukan kegiatan pokok (buka main bola) mereka sebagai salahsatu UKM. sedangkan didepan mereka berdiri gedung terang dan mega yang diberi nama Gedung Serba Guna. Ini yang membuat saya kaget, mengapa tidak menggunakan fasilitas yang ada. Saya tidak tahu apakah orang-orang yang berseragam merah tadi tidak meminta izin untuk menggunakan gedung tersebut atau tidak mendapatkan izin menggunakan fasilitas yang ada.

Banyak fasilitas dikampus yang katanya Islami ini yang tidak bisa digunakan. Gedung Auditorium yang dulu merupakan tempat kegiatan pokok yang berseragam merah tadi dan ekspo setiap UKM. Tapi sekarang penulis tidak tahu kegunaan gedung tersebut. Mobil kampus yang sedikit sulit untuk dipinjamkan seperti yang dialami oleh salah satu jurusan untuk keperluan Studi Banding namun akhirnya menggunakan angkutan umum juga. Saya berfikir untuk apa semua ini disediakan kalau bukan untuk digunakan. Bagaimana Pembaca menilainya ?
Continue Reading...

Kamis, 08 Mei 2008

Mereka Bilang



Mereka bilang aku lusuh dan kumuh
Mereka bilang aku bau dan kusam
Mereka bilang aku terbuang
Mereka bilang aku dekil dan kerdil
Tapi mereka tak bilang seribu perak untuk perutku......?


Mereka bilang rakyat akan sejahtera
Mereka bilang gratis pendidikan
Mereka bilang tak bayar berobat
Mereka bilang banyak lapangan kerja
Tapi mengapa aku masih berdiri disini...........?
Continue Reading...

Mulutmu bau


Dalam berorganisasi selalu ada yang namanya rapat (walaupun kadang kala suasananya jarang tapi tetap disebut rapat), apapun organisasinya, dimanapun yang namanya rapat/musyawarah pasti ada, yang mana disana orang-orang selalu mengeluarakan ide-ide jitu untuk memecahkan masalah dan ada juga yang mengeluarkan ide untuk memicu masalah, hmmm……. “Kita harus begini dan begitu, caranya begini dan begitu juga, nanti kalau ada yang begini kita harus begitu”. Dengan semangat 45 mereka menyuarakan ide yang digarapnya, tidak lupa juga gerakkan/mimik tangan dan wajah yang seperti orang 63 tahun berorganisasi. Dengan mimik tangan diatas, dibawah, disamping, dibelakang, kadang mengepal tinju, yaaa….. segala macam lah yang intinya mereka bicara seakan-akan tak ada yang lebih darinya. Yang lain hanya diam mengantuk, sampe-sampe nafasnya bau karena diam melulu (tapi kayaknya mulut yang bicara lebih bau dari yang diam). Namu dalam organisasi kita tidak butuh orang yang mengeluarkan banyak ide, hebat bicara, gaya yang eksklusif, dan lainya. Tapi yang paling kita butuhkan adalah orang yang benar-benar mau berdiri dari tempat duduknya, mengambil peralatan dan bergerak melakukan perobahan. Rapat dalam organisasi sangat perlu tapi yang lebih penting penerapan apa yang dirapatkan. Rapat bukan untuk cari nama, unjuk kebolehan, unjuk gigi (kalau putih bolehlah, tapi kalau karatan kan tengsin). Jangan sering perintah orang, jangan sok jadi leader, jangan sok sibuk, jangan sok jadi aktivis, jangan banyak bicara kalau bikin orang pusing karena ide gilamu dan mulutmu yang bau. Yang baca jangan nyari celah orang lain dulu, lu sendiri gimana?
Continue Reading...
 

adil wandi Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template